Purbalingga Bersiap Menjadi Sentra Bawang Merah

Bupati Purbalingga di Dampingi Ketua Tim Penggerak PKK dan Kepala Dinas Pertanian Melakukan Panen Bawang Merah

PURBALINGGA – Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah bersiap untuk menjadi sentra bawang merah baru. Uji coba budidaya tanaman bawang merah di Desa Pekuncen, Kecamatan Bobotsari, Purbalingga seluas 1,5 hektar dinilai berhasil.

“Hasilnya sangat bagus, bawang merah ternyata cocok ditanam di Purbalinga. Tahun depan kita akan kembangkan dalam skala yang lebih besar,” kata Bupati Purbalingga disela panen perdana uji coba budidaya bawang merah di lahan Kelompok Tani Bangkit Lestari, (29/05).

Bupati Tasdi pun langsung menginstruksikan Dinas Pertanian untuk melakukan pemetaan wilayah yang cocok untuk dilakukan budidaya bawang merah dalam skala yang lebih luas. “Budidaya bawang merah sangat menguntungkan dan bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Kita akan upayakan Purbalingga menjadi sentra baru bawang merah setelah Kabupaten Brebes,” ujar Bupati Tasdi.

Bupati Tasdi merencanakan akan meluncurkan program ‘Bamer Bangga’ yang merupakan singkatan dari ‘Bawang Merah Purbalingga’ tahun depan. Bupati berkomitmen untuk mengucurkan anggaran demi merealisasikannya. “Kalau beras Purbalingga sudah ada ‘Rasbangga’, nanti ada bawang merah Purbalingga,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga Lily Purwati juga optimis bawang merah bisa dikembangkan dalam skala yang lebih luas dan menarik minat petani untuk membudidayakanya. Pasalnya, budidaya bawang merah sangat menguntungkan. Menurutnya, berdasar hasil perhitungan ubinan panen bawang merah, dalam satu hektar mampu menghasilkan 29 ton. Jika harga bawang merah basah Rp 17 ribu per kilogram, maka hasil kotor yang dicapai  per hektar mencapai Rp 490 juta. Sementara  untuk ongkos budidaya per hektarnya hanya Rp 110 juta.

“Ini sangat menguntungkan, per hektar keuntungan bisa menjadi 300 juta. Hanya memang modal awal yang diperlukan juga besar dan perawatan harus intensif,” katanya.

Dalam ujicoba tersebut, petani menanam varietas bawang merah jenis ‘Bima’. Penanaman dimulai antara tanggal 26 Pebruari hingga 7 April 2017 dan baru dipanen pada umur 60 hari. “Hasil panen budidaya bawang merah di Pekuncen ini ternyata lebih bagus jika dibanding dengan budidaya bawang varietas Bima di Brebes. Hal ini karena struktur tanah masih subur dan tidak jenuh oleh bahan kimia pupuk atau pestisida,” kata Lily Purwati.

Sementara itu, Ketua Asosiai Petani Hortikultura (Aspehorti) Purbalingga Bambang Nuryono juga optimis bawang merah akan menjadi komoditas unggulan baru di Purbalingga. Berdasarkan pendampingan dari petani bawang merah Brebes yang diundang ke Purbalingga, disebutkan jika hasil budidaya bawang merah memang lebih baik. “Kesuburan tanah kita masih lebih baik baik dan karena belum jenuh akan bahan kimia pupuk atau pestisida,” kata Bambang yang juga salah satu pengurus Kelompok Bangkit Lestari Desa Pekuncen.

Menurutnya, pemasaran bawang merah dan produk hortikultura lainnya yang dihasilkan oleh petani purbalingga juga tiadk ada kesulitan karena asosiasi yang dipimpinya sudah memiliki jaringhan pemasaran. “Pemasaran hasil budidaya kami tidak ada kesulitan. Saat ini, produk hortikultura kami pasarkan untuk lokal dan luar kota rata-rata ke Yogyakarta dan Solo,” katanya.

Gunanto ES

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *