LUMBUNG PANGAN MARDI UTAMA DESA BOKOL MEMGELOLA GABAH PETANI SECARA ADIL

KEMANGKON #sedulurtani. Setiap panen raya padi, dibeberapa sentra produksi seringkali para petani menjerit karena harga gabah anjlok, jauh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Walaupun Perum BULOG sudah ditugaskan untuk membeli beras dengan harga sesuai HPP, namun pada periode panen raya tersebut, apalagi bila diperparah dengan musim hujan yang tinggi, jeritan tersebut akan kerap terdengar dan ramai diberitakan media massa, karena BULOG tidak mampu menangani seluruh wilayah yang sedang panen secara serentak.

Kementerian Pertanian memandang ini hal sebagai suatu permasalahan serius yang harus ditangani dengan suatu upaya terobosan, karena persoalan ini mempunyai multi –dampak, yaitu pendapatan usaha tani anjlok, insentif berusaha tani padi musim berikutnya menurun, dan bila persoalan ini meluas maka akan menambah jumlah rumah tangga miskin dan mengganggu upaya pencapaian ketahanan pangan.

Untuk mengatasi persoalan ini, Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian mendisain kegiatan Penguatan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat atau disebut LDPM. Disain utama ditujukan untuk menghadirkan lembaga ekonomi petani yang mampu berperan sebagai pembeli gabah minimal pada tingkat HPP dan dapat mengelola gabah tersebut, yaitu menyimpan dengan baik, mengolah menjadi beras dan memasarkan pada saat harga cukup tinggi sehingga dapat memperoleh keuntungan yang optimal. Selain itu, untuk tujuan ketahanan pangan, lembaga ini harus mampu mengelola cadangan pangan secara berkelanjutan, yaitu menyalurkan beras bagi anggota yang memerlukan saat paceklik dan menerima pengembalian plus jasa pengelolaannya saat panen raya.

Lumbung Pangan Masyarakat Mardi Utama Desa Bokol Kecamatan Kemangkon merupakan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat yang mendapat stimulan dari Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian sebesar 60 juta rupiah. Kelompok mempunyai anggota 65 orang dan dikelola dengan prinsip prinsip koperasi. Kelompok ini pada saat musim panen membeli gabah anggota dengan harga yang sesuai dengan pasar, kemudian meminjamkannya kepada anggota yang membutuhkan. Menurut Dwie Rusmiati Dwie, A.Md, penyuluh wilayah binaan setempat, untuk setiap pinjaman sebanyak 1 kuintal gabah, para anggota dikenai jasa sebanyak 15 kilogram gabah. “sedangkan jika masuk menjadi anggota Lumbung, simpanan pokoknya juga 15 kilogram gabah” Tambah Dwi.(SubbagPP).
#pertanianmelawancovid19
#pertanianmasuksekolah
#penyuluhsahabatpetani
#dinpertanpurbalingga
#purbalinggamemikat
#jatenggayeng
#kostratani
#kementerianpertanianRI
#pertanianmajumandirimodern

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *