Potensi Glagah Arjuna di Kecamatan Karangjambu

Tanaman Glagah Arjuna itu merupakan tanaman jenis rumput-rumputan yang cukup besar. Biasanya tanaman ini digunakan sebagai bahan baku utama untuk produk sapu. Nama latin glagah arjuna adalah Themeda villosa, termasuk dalam family Poaceae. Tanaman ini mempunyai batang yang tinginya mencapai 1-2 meter. Daunnya mengumpul di bawah, seperti kipas dengan tepi daun tajam. Bentuk daunnya panjang dan meruncing dengan panjang 50-90 cm dan lebar 5-15 cm. Bunga majemuk terletak di ujung batang berbentuk malai yang bercabang dengan panjang malai sekitar 20-60cm. Tanaman ini dapat tumbuh dari permukaan laut hingga ketinggian 1.700 mdpl dan di berbagai jenis tanah. Namun demikian,tanaman glagah membutuhkan curah hujan yang tinggi, sehingga tanaman glagah ini tumbuh baik di daerah-daerah pegunungan seperti di kecamatan karangjambu, karangreja, kecamatan watukumpul dan sekitarnya.

Tanaman ini begitu penting, karena tanaman glagah arjuna ini dapat membawa manfaat yang besar khususnya dalam meningkatkan ekonomi masyarakat. Cara budidaya tanaman yang mudah, kemampuan adaptasi tanaman yang cukup baik hingga bisa tumbuh di bawah tegakan pinus, dan permintaan pasar yang cukup besar membuat tanaman ini menjadi komoditas yang cukup penting khususnya di kecamatan karangjambu. Budidaya tanaman ini juga bisa menyerap tenaga kerja (mengurangi pengangguran), baik di on farm maupun off farm. Di off farm dapat menyerap tenaga kerja dalam penanaman, pemeliharaan maupun dalam pemanenan, sedangkan dalam off farmnya dapat menyerap tenaga kerja di bidang pembuatan sapu glagah. Dengan kata lain dapat pula menggerakkan sektor usaha kecil menengah yang ada di desa-desa.

Di wilayah Kecamatan Karangjambu ada sekitar 300-400 ha lahan yang ditanami tanaman glagah arjuna. Baik itu kerjasama dengan Perum Perhutani dengan memanfaatkan lahan di bawah tegakan, maupun di tanam  di lahan pribadi / perorangan. Luasan lahan di Kecamatan Karangjambu dalam bentuk hutan rakyat tercatat 1.897,20 ha, dan hutan negara seluas 926 ha. Dengan luasan tersebut, masih terbuka peluang untuk pengembangan glagah arjuna di Kecamatan Karangjambu.

Secara umum budidaya tanaman glagah arjuna cukup mudah, bahkan tanpa perawatanpun tanaman glagah bisa tumbuh dengan baik. Tanaman ini dapat tumbuh dari biji, dan juga dari anakan. Umur tanaman ini dari mulai tanam hingga panen sekitar 2 tahun untuk panen pertama, dan umur 3 tahun sudah bisa panen raya. Organisme pengganggu tanaman juga tidak banyak, menurut keterangan dari petani beberapa hewan yang mengganggu tanaman glagah ini seperti rayap, tupai dan kera. Untuk pemupukan, praktek yang ada di lapangan tanaman tidak dipupuk, hanya sebagian petani menggunakan pupuk kandang. Mungkin ketika tanaman dipupuk dengan pupuk N, P dan K secara berimbang, hasil panen yang dicapai akan lebih baik. Namun sampai saat ini kami belum menemukan literatur ataupun hasil penelitian tentang budidaya tanaman glagah arjuna sehingga kami belum bisa menyebutkan tentang dosis dan waktu pemupukan yang dianjurkan. Hal ini membuka peluang bagi civitas academica, universitas-universitas untuk melakukan penelitian mengenai tanaman glagah arjuna.

Tanaman glagah arjuna dipanen 1 tahun sekali, sekitar bulan agustus. Waktu panen yang tepat adalah ketika bunga glagah sudah keluar semua dari tangkai. Untuk produksi kembang glagah per hektar tergantung lokasi penanaman. Apabila di tanam di lahan terbuka dapat menghasilkan sekitar 5 kuintal kembang glagah kering (perbandingan 4 : 1), sedangkan apabila ditanam di lahan bawah tegakan dapat menghasilkan antara 2,5-3 kuintal kering (perbandingan 5 : 1). Pemanenan dilakukan dengan sabit, namun perlu hati-hati karena daunnya termasuk tajam. Setelah dipanen, kembang glagah dijemur di bawah matahari selama 5-10 har, sehingga siap menjadi bahan baku sapu.

Untuk saat musim panen ini harga kembang glagah kering (masih dengan tangkai) sekitar Rp 600.000,- / kuintal kering, namun ketika musim panen selesai harga bisa naik sekitar Rp 700.000,- s/d800.000,- / kuintal kering. Sedangkan untuk kembang glagah yang sudah dibeset (dihilangkan tangkainya) harga sekitar Rp 15rb / kg. 100 kg kembang glagah kering bisa menjadi 60 kg kembang glagah besetan (Harga 1 kuintal besetan sekitar Rp 900.000,-). Bisa dibanyangkan dengan produksi misalkan 4 kuintal kering per hektar di lahan 300 hektar, sudah menghasilkan Rp 720.000.000,- per tahun dari hasil glagah arjuna.

Pemasaran kembang glagah petani bisa langsung menjual ke pengrajin sapu, atau melalui pengepul. Dari pengepul bisa dijual ke pengrajin sapu lokal, maupun dapat dijual ke pengepul lain di luar kota untuk dijual ke pengrajin sapu di kota lain.

Kerjasama antara petani dengan perum perhutani merupakan kerjasama yang saling menguntungkan, dan disusun dalam sebuah kontrak tertulis. Perum Perhutani KPH Banyumas Timur bekerjasama Petani yang terhimpun dalam lembaga LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan). Perum Perhutani dalam hal ini memperoleh keuntungan berupa : ikut berperanserta dalam membantu mensejahterakan masyarakat sekitar hutan dan menjaga fungsi ekologis hutan, bersama petani melakukan pengawasan dan pengamanan hutan, mendapatkan mitra kerjasama dalam program-program perhutani serta mendapatkan kontribusi pendapatan dari hasil glagah arjuna. Sedangkan petani memperoleh keuntungan berupa dapat memanfaatkan lahan kehutanan untuk menanam glagah arjuna di bawah tegakan pinus, menerima sharing pendapatan dari hasil glagah sebesar 70 : 30 sehingga pendapatan petani meningkat. Namun demikian, budidaya glagah arjuna oleh petani ini tidak boleh mengganggu tanaman pokok, tidak boleh mengganggu penyadapan getah pinus dan memperhatika aspek konservasi lahan.

Proses pembuatan sapu dari glagah arjuna yaitu kembang glagah yang sudah dikeringkan bersihkan, ditimbang sekitar 200gr-250gr per sapu, kemudian diikat dengan wlingi, dan diberi gagang dari kayu atau bambu. Harga sapu itu beragam sekitar Rp 8.000,- s/d Rp 17.000,- untuk pasar lokal dan Rp 20.000,- s/d Rp 40.000,- untuk pasar ekspor, tergatung pada modelnya.

Kapasitas produksi pengrajin sapu di Karangjambu bermacam-macam tergantung besar kecilnya usaha, ada yang mampu membuat 400 sapu per hari , ada yang mampu 3.000 buah sapu per hari.

Pemasaran sapu glagah masih sangat terbuka lebar, pemasaran untuk lokal di berbagai kota di Indonesia, serta pemasaran ekspor atau luar negeri seperti Korea, Malaysia, Pakistan, dan India. Bahkan permintaan untuk pasar ekspor yang diminta kepada salah satu pengrajin sapu di Karangjambu sekitar 35.000 buah sapu per bulannya. Belum lagi untuk pasar lokal.

Kendala yang dihadapi pengrajin sapu yang utama masalah bahan baku. Bahan baku kembang glagah baru ada di Kecamatan Karangjambu dan sekitarnya, sedangkan pemasaran produk sapu ke seluruh Indonesia dan untuk pasar ekspor. Untuk gagang sapu yang berupa bambu cendani atau bambu ancui, masih mendatangkan dari banjarnegara atau wonosobo sehingga biaya produksi meningkat. Belum tersedianya mesin-mesin seperti mesin untuk membersihkan kembang glagah, mesin dowel untuk membuat gagang sapu, maupun mesin oven untuk mengeringkan kembang glagah.

Harapannya komoditas glagah arjuna ini mendapatkan perhatian dari pemerintah, perlunyamemperkuat kelembagaan LMDH, perlunya diadakan penelitian ataupun bersama perguruan tinggi mengenai budidaya glagah arjuna sehingga produksi meningkat, perlunya dibentuk asosiasi pengrajin sapu dan pembinaan secara berkelanjutan, perlunya bantuan mesin-mesin baik untuk penjemuran (oven), maupun mesin-mesin untuk pembuatan sapu.

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *