Profil : SUTOMO, DUTA MILENIAL KEMENTAN 2019

BOJONGSARI #sedulurtani. Berbincang dengan Sutomo, ST, salah satu duta milenial dari Kementerian Pertanian RI yang tinggal di Desa Bumisari Kecamatan Bojongsari memang mengasyikan, selain karena Tomo, demikian biasa disapa, masih berusia muda sehingga semangatnya masih menyala nyala, juga karena pengusaha muda ini mempunyai pengetahuan yang luas, sehingga enak dan nyambung jika berbincang mengenai banyak hal. Terpilihannya bapak dua anak ini menjadi duta milenial tentu diraihnya melalui jalan yang panjang. Sutomo yang lahir dan besar di Desa Bumisari memang memahami betul situasi desanya, mata pencaharian warganya dan sistem sosial yang berlaku disana. Penderes adalah jenis pekerjaan yang dilakoni oleh sebagian besar warga Bumisari, potret kehidupan pendereslah yang menginspirasi Tomo untuk terjun menggeluti usaha pengolahan Gula Kelapa, tanpa mengabaikan upaya upaya untuk memberdayakannya dengan mendirikan kelompok Usaha Bersama (KUB) Central Agro Lestari yang memproduksi gula kristal organik dengan orientasi pasar ekspor.

Melalui Kelompok Usaha Bersama inilah Sutomo ingin memajukan desanya dan mensejahterakan para anggotanya. Gula kristal yang diproduksinya telah memenuhi standar standar kemanan pangan (HACCP) dan standar Good Manufacturing Produck (GMP) sehingga produknya dapat diterima oleh pasar nasional maupun pasar gobal. KUB yang dipimpinnya semakin dikenal luas, terbukti dengan semakin banyaknya pesanan gula kristal organik produknya. Banyak cita cita yang ingin diraih duta milenial ini, termasuk mendirikan sebuah Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S).

MENGGAGAS SIM ORGANIK TERINTEGRASI

Gula kelapa adalah salah satu kluster dalam FEDEP (Forum for Economic Development and Employment Promotion), sebuah forum yang selama ini mempunyai perhatian kepada pengembangan UKM. Melalui forum inilah, Tomo sering berdikusi dengan pelaku pelaku UKM lainnya, bagaimana mengembangkan kluster gula kepala di Purbalingga. Gula kelapa menjadi salah satu komoditi yang dikembangkan dalam konsep one village one produck (OVOP) dan ide ide tentang kemandirian pengrajin gula kelapa sering ia lontarkan dalam setiap kesempatan. Menurutnya untuk mewujudkan kemandirian petani dan pengrajin gula kelapa harus dimulai dengan pendataan potensi desa, pendataan tersebut dapat dilaksanakan pada tahun 2018.

Selanjutnya dimulai pula gerakan dapur bersih. “Kualitas gula kelapa, baik cetak, gula semut maupun gula cair itu dimulai dari dapur yang bersih” Jelasnya. Biaya untuk pembuatan dapur bersih, diperolehnya dari prosentasi keuntungan KUB yang dikelolanya. Besarnya biaya pembuatan dapur bersih dapat mencapapai 1.500.000 rupiah per dapur, saat ini lanjut Tomo, telah dapat dibangun 16 dapur bersih dari 100 dapur yang ditargetkan pada tahun 2021.

Selain dua hal tadi, sarjana teknik mesin ini juga melontarkan gagasan tentang merubah rantai pasok, dimana petani mempunyai banyak waktu untuk mengelola kegiatan agribisnisnya yang lain. “Jadi idealnya itu penderes menyetorkan nira yang sudah dideres ke tempat pengolahan yang terpusat di KUB, sehingga masih banyak waktu yang bisa digunakan untuk mengelola kebunnya” Terang Tomo.

Beberapa hal tersebutlah yang mendasari gagasannya untuk menciptakan sebuah aplikasi yang dia sebut sebagai Sistem Informasi Organik terintegrasi, dimana aktivitas budi daya, panen dan pengolahan produk produk organik sudah bisa di akses dan dipantau oleh calon buyer di Luar negeri. Ide ini, menurut alumni universitas ternama di Jogya ini sudah pernah dipaparkannya di gaung inovasi penjaringan start up agro, Provinsi Jawa Tengah, bahkan sudah pernah dibeberkan di Kementerian Pertanian RI. Semoga segera terwujud Bung Tomo (subbagPP).
#petanimilenial
#pertanianmasuksekolah
#penyuluhsahabatpetani
#dinpertanpurbalingga
#purbalinggamemikat
#jatenggayeng
#kostratani
#kementerianpertanianRI
#pertanianmajumandirimodern

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *